Story Part 8 (3 Months of Love)
Teman, Sahabat dan Pacar
“Marsya, Keyla dan Ratna stand by di belakang panggung ya, saat
giliran kita kalian langsung ke stage.
Buat yang lainnya fokus timing masuk
dan check partnernya masing-masing.
Gendang sama sound system udah ready ya. Okey! 5 menit lagi giliran
kita tampil. TEATER TIRTA?!!!” teriaknya sungguh membuat semua orang yang mendengar terbakar semangat.
“Hap! Hap! Hap! SEMANGAT!!!”
serentak seluruh anggota Teater bersorak. Saat sang MC memanggil nama Teater
kita, kami langsung mengambil posisi sesuai intruksi pelatih saat breafing akhir tadi. Pandanganku terbatas karena jadwal
kami tampil adalah selesai break Maghrib,
sehingga sekitaran kami sangat gelap. Hanya lapangan yang terlihat karena
adanya bantuan sorotan lampu tiang dan lighting
panggung. Stage kami di lapangan,
karena panggung sudah dipenuhi dengan perangkat sound system dan gendang. Untunglah gelap hanya bayangan
segerombolan orang yang terlihat, setidaknya tidak terlalu membuatku grogi walaupun pandanganku tidak fokus pada 1
titik.
Alunan musik dimulai yang sontak
membuatku menari mengikuti ritme seperti yang dilakukan pada saat latihan,
kumainkan selendang yang terikat dipinggangku kesana dan kesini. Ritme meninggi
dan kami bergantian mengubah posisi dengan masuknya 1 persatu peran yang
datang. Hingga tiba akhir pertunjukan dengan diwarnai pemegangan kembang api
oleh para pemain peran terakhir.
DUNG
DUNG, DUNG. BRAK! BRAK!
Penekanan nada pada gendang ini
menandai berakhirnya kami di stage
dan para penonton bertepuk tangan ramai dengan siulan sesekali. Aku berjalan ke
belakang panggung lalu masuk ke kelas tempat berkumpulnya Teater sebelum
tampil. Kami semua berkumpul dan bersyukur atas tak ada halangannya akan
penampilan tadi.
Acara tahunan sekolah ini berjalan
lancar, setelah penampilan Teater dilanjutkan dengan penampilan beberapa band hingga nanti malam dengan batasan
sampai jam 10 malam acara berlangsung.
Aku berganti pakaian dan membereskan
tasku, lalu bergabung dengan teman-teman yang lain sebagai penonton. Rani dan
Tina sudah pulang daritadi sore, mereka memang tidak terlalu tertarik akan
acara-acara seperti ini. Jadi aku berkumpul dengan Marsya, Rangga dan
teman-teman lain yang kukenal. Melihat handphoneku
mati, jadi kumasukkan saja ke dalam tas. Suasana terlihat gelap karena minimnya
penerangan, jadi terlalu sulit untuk mengenali orang sekitar kita.
Lalu ada yang menepuk bahuku, aku
melihatnya dari dekat untuk mengetahui siapa dia. Saat kudekatkan wajahku, dia
malah menutup mataku dengan tangannya. Aku berontak dan bertanya siapa dia. Dia
hanya tertawa dan melepaskan tangannya dari mataku. Tawanya tak begitu
terdengar karena suara musik yang menggelegar dari speaker. Aku lihat dia dengan jelas, mukanya mulai terlihat dari
pantulan cahaya panggung. Dia masih tertawa dan berkata, “Keyla, aku ada
makanan. Makan dulu yuk” di tangan kirinya terlihat kresek putih yang berisi
makanan.
Aku sangat senang dan bahagia
melihat orang itu Vino. Dengan senyumnya yang khas dia berkata “kita makannya
di kelas aja biar enak dan terang, kamu belum makan kan dari tadi?”. “Iya
belum, kebetulan lagi laper” aku sangat bersyukur dengan adanya dia, dia tak
pernah menunjukkan apapun kepada orang lain tentang kita, dia orang yang ceria
dan selalu ramah ke setiap orang. Dia orang yang bijak dan selalu menghargai
orang lain.
Dalam kerumunan orang banyak dan
gelap, dia memegang tanganku dan menarikku ke dalam kelas. Kami makan bersama
dengan spaghetti cina alias kwetiaw
yang ada di hadapan kami. Dia bercerita banyak hal termasuk tentang
penampilanku tadi. Aku memerhatikannya, aku memandang wajah dan dirinya. Ya
Tuhan, dia sungguh tampan dan berkepribadian baik. Walaupun kucoba ubah
penampilanku, aku merasa masih belum cukup pantas untuknya. Masih terlalu jauh rasanya.
Dia bercerita sambil menertawakan
cerita tersebut, matanya menyipit dan gigi rapinya terlihat semua. Akupun ikut
larut dalam cerita tersebut yang sesekali mengagumi dirinya. “Vino, makasih banyak yah. Kamu memang temen
yang paling baik” aku mengatakannya dengan tulus dari hati.
Vino terdiam dan berpikir, “Key,
sepertinya aku ga bisa terus seperti ini. Tak apa, jika aku ga seperti ini
lagi?”. Aku tertunduk dan sakit rasanya, namun itu haknya dia, akupun tak ingin
dia terus seperti ini. Ini hanya membuatku sedih, aku merasa terlalu beda
dengannya. Aku yakin, di luar sana ada yang jauh lebih pantas untuknya. Dan
menjadi couple terfavorit di sekolah
walaupun menyisakan banyak para siswi yang patah hati.
“Iya gapapa Vino.. Aku beruntung
bisa mengenalmu. Makasih ya” dia hanya menghela nafas saat kukatakan ini. “Kamu
mau pulang kan, aku antar kamu pulang dulu ya” sambil merapikan bungkus makanan
kami untuk dibuang.
“Ah ga usah, pulang duluan aja.
Lagipula Marsya tadi minta aku temenin buat nonton band kelasnya tampil nanti” untung aku ingat Marsya, sebenarnya dia
tidak memintaku apa-apa. Namun jika aku bersamanya malam ini, membuatku terlalu
serakah tanpa memikirkan perasaannya.
“Nanti pulangnya gimana? Dianter
siapa?” dia mulai mengkhawatirkan aku. Akupun takut untuk menaiki angkutan umum
jam segini.
“Yang penting bareng Marsya, kayanya
nanti dianter sama Rangga” dia tahu kedekatan aku dengan anak-anak Teater dan
juga anak-anak kelas. Sepertinya itu membuatnya tenang.
“Yaudah, hati-hati ya. Sekarang Marsya
dimana? Kita kesana, lalu aku pulang” dia mengusap kepalaku dan memainkan
kuciranku. Aku tersenyum dan menghampiri
Marsya di depan panggung, aku melihat Vino dari kejauhan dan dia melambaikan
tangannya untuk berpamitan pulang. Aku mengangguk dan diapun menghilang.
Dari depan panggung terlihat
lenggang tidak begitu padat dengan kerumunan orang. Sehingga terlihat jelas
orang-orang sekitar kita, ditambah cahaya lampu dari panggung. Sedangkan
kerumunan berada di pinggir lapangan. Saat kulihat ke sebelah kanan, kulihat
sepasang kekasih yang berpelukan. Sang perempuan dipeluk oleh pacarnya dari
belakang dengan mengayun ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik. Aku
berpikir, kapankah aku berada di posisi itu? Dan siapakah orang yang ada di
belakangku? Sepertinya kalo Vino tidak mungkin.
“Key, coba hubungin Rangga. Dia lagi
di sebelah mana? Nih pake baterei aku, aku lagi ga ada pulsa” dia menyodorkan
hpnya. Aku coba menyalakan hpku untuk menghubungi Rangga, belum sempat aku
menelepon Rangga ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.
Kubuka pesan itu dan kubaca.
‘Key, jangan lupa kabarin kalo ga
ada yang nganterin. Hati-hati ya. Aku sayang kamu. Dari temanmu, Vino’
Pandanganku datar setelah
membacanya. Aku berpikir dan kesal pada diriku sendiri. Ada apa ini, ada apa
denganku. Aku merasa tak ingin lagi bertemu dengannya. Aku tak ingin dekat lagi
dengannya.
Kulanjutkan kembali mencari nomor Rangga tanpa
membalas pesan dari Vino dan menghapus pesan itu.
***
Persiapan ujian kenaikan kelas
hampir tiba, dan setiap guru sudah memberikan latihan soal untuk para muridnya
agar ada gambaran saat ujian nanti. Untuk persembahan dari kelas kita dalam
praktik bahasa Indonesia, kami sudah menyiapkan drama komedi romantis ala DUO
Lenje yang dibantu Panjul sebagai pemeran utamanya.
Selagi anak-anak kelas menyiapkan
dramanya, kami anak Teater juga menyiapkan kabaret untuk acara perpisahan kelas
3. Kami sudah mendapatkan perannya masing-masing dan latihan seminggu 3 kali.
Perannya kali ini sangat menantang, mau tau apa perannya??
Bukan peran antagonis ataupun
menggunakan adegan silat, namun peran yang aku dapat adalah menjadi alien
dengan keempat alien lainnya dan berbasic komedi. Jadi bayangkan saja alien
dengan bentuk baju dalaman dan kepala yang melendung besar ke atas. Loncat sana
dan loncat sini seperti para kurcaci dalam adegan Putri Salju. Sungguh
memalukan, tapi sudah tak berlaku lagi sepertinya buat kami dan aku ga
keberatan untuk memainkan peran itu.
Saat latihan
teater, kami mempersiapkan diri bermalam di sekolah karena malam ini adalah
latihan terakhir kami sebelum ujian kenaikan kelas. Banyak para alumni Teater
yang sudah kuliah maupun kerja yang datang ke acara bermalam kami. Ada yang
membantu dan berdiskusi, karena kami berencana menyiapkan pertunjukan akbar di
sekolah kami.
Aku dan Rangga bermain di tempat sound system dan bernyanyi bersama senior lainnya. Sedangkan Marsya
yang berperan sebagai pemain utama sangat serius membaca naskah untuk
pertunjukan akbar nanti. Dia memang begitu serius mengikuti Teater dan
aktingnya tak kalah dengan senior lain. Sedangkan aku, aku hanya tim
penggembira saja yang menghabiskan waktuku untuk bisa bersama-sama dan berjuang
di Teater ini. Cukup dengan ada orang-orang seperti kalian yang membuat hari-hariku
ramai.
Aku tak bisa diam, berjoget kesana-kesini sambil
tertawa bersama teman-teman yang lain. Sampai tiba jam tidur, Marsya sudah
tidur duluan di UKS karena kelelahan latihan tadi dan berdiskusi dengan para
alumni. Tapi tidak untuk kami, karena kami sudah berpesta kopi dan begitu
senang untuk bisa mengalami bermalam di sekolah.
Sampai merasa kelelahan, pesta kecil-kecilan kami
berhenti. Seniorku ada yang masuk ke UKS dan ada yang duduk mengobrol santai di pojokan dengan
yang lainnya. Rangga tak terlihat, dan aku duduk di atas panggung, melihat ke
arah tempat penonton. Aku memikirkan Vino, bagaimana kabarnya sekarang.
Semenjak acara tahunan sekolah, kami tidak pernah mengobrol lagi. Hanya
sesekali tersenyum saat berpapasan dan tertawa bersama saat mengobrol dengan
Said.
Pikiranku terasa berat, saat memikirkan apa yang
menjadi masalahku sehingga membuat aku tak ingin terlalu dekat dengannya. Apa
karena minder, dia terlalu sempurna? Dalam lamunan, tiba-tiba ada seorang
alumni yang berkacamata dengan baju sweater merahnya datang menghampiri dan
duduk di sebelahku dengan jarak 2 langkah.
Aku terheran, siapa dia? Oh mungkin salah satu alumni.
Dia mulai membuka percakapan dan kita larut dalam obrolan ringan. Di dalam
obrolan, pikiranku menerawang dan berpikir. Aku ingin menjadi apa kelak,
melihat para alumni yang bersekolah lagi mengambil jurusannya masing-masing,
ada yang jadi penyiar radio dan ada juga yang menjadi guru TK.
Orang yang
disebelahku ini bernama Firman, dia mahasiswa dari salah satu universitas yang
ada di Bandung. Dia baru lulus setelah Kak Hana masuk ke sekolah ini, berarti
beda berapa tahun ya denganku? Jurusan yang dia ambil, aku tidak terlalu
mengerti jadi kuiyakan saja semua yang dia katakan, termasuk permintaan dia
yang ingin menjadikan aku pacarnya. Padahal, kami baru mengobrol sekitar
sejaman lebih.
Setelah kuiyakan, aku pergi ke UKS untuk tidur dan dia
mengantarkanku sampai ke UKS lalu pergi.
Pengaruh kafein masih sangat terasa, aku membenarkan posisiku agar
tidurku nyenyak. Rangga masuk ke ruangan UKS dan bertanya “Key, kamu gapapa?
Kamu udah mau tidur?”.
“Iya Ngga, kalo ga tidur, besok di kelas bisa-bisa
ngantuk” Rangga lalu pergi sepertinya dia menahan untuk bicara, lalu dia
kembali lalu pergi lalu kembali, aku tidak mengerti kenapa Rangga bolak-balik
masuk hanya untuk menanyakan keadaanku. Aku coba memenjamkan mata, dan mencari
alasan kenapa aku mengiyakan permintaan Kak Firman.
Wait?!!
Aku sekarang punya pacar?? Dan namanya Firman, bahkan aku ga tau nama
lengkapnya. Dan kami baru saja kenal, itupun kami baru mengobrol selama 1 jam
lebih. Bahkan aku tidak terlalu jelas melihat mukanya dan aku ga hafal. Ya
Tuhaannnnn… Apa yang kulakukaannnn… Gampangan banget sih gue kalo gitu. GILA!
***
Keesokan harinya, kami bangun dari subuh dan untuk
pertama kalinya mandi di sekolah. Waahhh seperti ini yah, suasana pagi hari di
sekolah yang belum terlihat siapapun yang datang. Aku seperti melihat suasana
di pegunungan saja dengan pengalaman bermalamku ini.
Setelah mandi kami mulai bersiap-siap pakai seragam
sekolah, karena kami harus masuk kelas sedangkan yang lain ada yang masih
membuat properti. Selama di kamar mandi, aku dan Marsya mengobrol dan
kuceritakan tentang kejadian semalam.
“Iya aku tahu orangnya, yang pake kacamata yang tinggi
itu kan, dia pake sweater abu” eh abu ya, malah yang kuingat dia memakai baju
merah bukan abu. Kayanya Marsya hafal banget dan responnyapun datar, bahkan dia
tahu sebenarnya nama Kak Firman itu Firmansyah padahal dia juga baru kenal
semalam.
Kami masuk ke kelas kami masing-masing sebelum
berkumpul kembali di Aula. Di kelas, kami diberi kisi-kisi dan ucapan selamat
tinggal dari para guru karena guru-guru yang akan mengajar di kelas 2 nanti itu
mungkin berbeda.
Seiring ucapan selamat tinggal dari guru, aku melihat
orang-orang sekitarku. Rani, Tina, Boni, Said, Tantra, Mira, Romi dan
kawan-kawan. Aku sudah lama tak bersama mereka, bercanda dengan mereka, karena
sekarang aku lebih sering latihan Teater dibanding berkumpul dengan mereka. Aku
sepertinya akan rindu dengan mereka. Tapi mungkin, kita bersama lagi di kelas
2.
Jam pulang sekolah, aku bersua dengan Rani dan Tina
dan memberikan mereka kenang-kenangan sebelum pulang dan menulis sesuatu
seperti Diary. Kepolosan Tina,
sundanya Rani dan tingkahnya DUO Lenje akan menjadi kenangan, dan juga kelas
ini, terutama spot jendela dengan view lapangan
yang menjadi favorit. Aku pasti benar-benar merasa kehilangan, apalagi Said.
Dia adalah teman menggilaku yang paling The
Best.
Aku berjalan menuju ruang Teater untuk mengambil
barangku yang kusimpan disana kemarin, ruang Teater kami tepat berada di atas
ruangan OSIS. Begitu banyak orang yang berkumpul di ruangan OSIS, ada beberapa
yang sedang menulis di selembar kertas.
“Keyla! Kamu ikutan ga? Sini kamu” ujar senior
Teaterku yang sekaligus anggota OSIS. Dia orang yang bersamaku tadi malam untuk
berpesta kopi. Aku ingat dengan laga dia yang menirukan joget Agnes Monica,
sungguh lucu.
Aku menghampirinya dan bertanya “Ikutan apaan Kak?”.
Dia menjelaskan tentang perekrutan pembimbing siswa-siswi baru nanti pada saat
MOS. Jadi, perekrutan dengan cara menyeleksi biodata orang yang daftar lalu di briefing.
“Jadi, sekarang kamu serahin biodata aja. Nanti aku
yang urus” dia langsung menyuruhku untuk menulis namun aku tidak membawa alat
tulis sama sekali.
“Tasku ada di Aula Kak, aku bawa dulu kalo gitu”
sambil berancang untuk pergi.
“Hei Keyla!” dia memegang kepalanya dengan gaya ala
pusing Mba Meggy Melati Sukma. Cowo ini emang agak melambai, tapi dia tetep
normal kok #lho. Dia langsung menyobekkan kertas biodata peserta lain yang
sudah dikumpulkan. Lalu menyerahkan kepadaku hasil sobekan tersebut dan pulpen, dia menyuruhku untuk menulis
biodata dan dikumpulkan. Emang seperti bidadari hati ini orang, modus gue.
Aku
mengumpulkan biodataku dan tak lupa berterima kasih. Langsung bergegas ke Aula
untuk bergabung dengan anak Teater lainnya. Ternyata disana sudah ada Kak
Firman, aku langsung mengambil tempat duduk yang agak berseberangan dengannya.
Aku tak ingin bersebelahan dengannya, karena itu terlalu aneh buatku.
Selesai berdoa untuk kesuksessan kami yang menghadapi
ujian kenaikan kelas, kami bubar dengan bersalaman antar anggota Teater. Kak
Firman datang mendekatiku dan mengajakku untuk makan bersama namun ku bilang
ingin pulang cepet untuk belajar.
“Kalo gitu, aku anter pulang ya” dia bersiap sambil
mengambil tas hitamnya. Belum sempat dia mengajakku, aku cepat sanggah dia.
“Kak, aku dah janjian pulang bareng temen di depan. Jadi gapapa ya aku pulang
duluan” aku langsung berlalu tanpa mendengar jawabannya. Aku masih asing
dengannya, padahal dia adalah pacarku.
Sampai di depan gerbang sekolah, aku langsung mencari
siapapun yang kukenal untuk pergi bersama. Yang penting pergi dari gerbang ini
bersama orang lain, karena aku tahu dia pasti akan menyusulku kesini.
Beruntungnya aku, karena disana terlihat Said yang sedang mengeluarkan motor.
Aku langsung menyergapnya dari belakang, “Id, kita
pulang bareng Id. Please urgent, jangan
banyak tanya. Pokonya biasa aja trus pergi dari sini” aku menarik tali tasnya,
untuk menandakan kalo aku sedang dalam kesulitan.
“Oh okey, okey. Bentar aku keluarin motor dulu dari
parkiran nih” dia langsung memakai helmnya dan memboncengku dengan helm
pinjeman. Syukur deh, aku bisa kabur kali ini. Kak Firman, maaf… Memang aku ada
masalah dengan hal ini, aku terasa takut untuk menjalaninya.
***
Ujian kenaikan kelaspun berakhir dan kami bisa
bernafas lega menghadapi libur panjaaang! Tapi libur panjang kali ini
sepertinya tak akan kurasakan. Selain penampilan kabaret di acara perpisahan
kelas 3, aku terpilih menjadi salah satu pembimbing siswa-siswi baru di MOS
nanti. Tak apa ga liburan, setidaknya aku mengisi dengan kegiatan yang lebih
seru. Pasti menyenangkan!
Kelas menjadi kelas bebas di minggu terakhir sekolah,
jadi situasi kelas agak sepi , hanya tas-tas yang tak bertuan di atas meja,
termasuk di mejaku. Karena aku disuruh Kak Hana untuk mengecheck properti kabaret
yang ada di Aula, apakah kondisi masih aman atau tidak.
Ternyata Aula sangat ramai, karena banyak yang sedang
bermain badminton disana. Aku memutari yang sedang bermain tersebut lalu
mengecheck ke belakang panggung. Setelah memastikan semuanya aman, aku
bermaksud untuk pergi ke kantin. Tapi ada yang kukenal disana, salah seorang
yang bermain badminton tersebut adalah temannya Romi yang juga kukenal akrab.
Melihatnya bermain sangat bagus, aku duduk di pinggir
garis badminton untuk menontonnya sebentar. Di sebelahku ada siswa yang memakai
jaket bernuansa army, lalu dia
mengajakku ngobrol tiba-tiba.
“Dia bagus ya mainnya, aku juga bisa tapi dah lama ga
main” aku heran, siapa dia? Memang aku mengenalnya?
“Iya. Dia memang bagus mainnya. Aku juga pengen main
tapi gak PD haha” dan aku langsung main
timpal. Dasar, ga tau diri aku ini. Kami mengobrol sebentar, hingga temanku
yang bermain badminton menghampiri kami.
“Marcel, tadi aku 4 set bisa smash, kamu set berapa kemarin?” badannya penuh dengan keringat,
untungnya dia bawa handuk kecil di tangan. “Haha belum nih” dia tertawa dengan
menarik lengan baju armynya ke sikut.
Aku melihat orang ini, kayanya dia tinggi karena tangan dan kakinya terlihat
begitu panjang. Badannya berisi dan lesung pipitnya yang di sebelah kiri
terlihat jelas saat dia tersenyum.
“Key, kamu mau main ga? Nih raketnya kalo mau main”
dia menyodorkan raketnya sambil mengusapkan handuk ke mukanya yang penuh dengan
keringat. Sebelum dia melepaskan raketnya aku buru-buru jawab, “Engga Fer, aku
ga bisa. Aku juga pernah main tapi itu waktu SD haha”. Jika aku bermain disini
bisa-bisa jadi bahan lelucon, mereka terlihat begitu expert memainkannya.
“Eh Fer, aku mau ke kantin. Kamu mau nitip beli minum
ga?” dia terlihat begitu haus sedangkan air mineral yang ada hanya tinggal
sedikit. Tanpa pikir panjang dia langsung mengiyakan penawaranku itu.
Aku langsung melesat ke kantin dan membeli apa yang
ingin kubeli. Di kantin aku bertemu dengan Vino yang sedang memakan mie goreng.
Kami bertemu pandang dan pura-pura tidak melihat satu sama lain. Setelah
mendapatkan apa yang kubeli, aku berjalan keluar kantin sambil berpikir.
Baru lima langkah dari kantin, aku langsung berbalik
dan masuk kembali ke dalam kantin. Aku dekati dirinya dan duduk di sebelahnya,
“Vino, kamu sudah punya pacar?”. Dia mengernyitkan dahinya dan bertanya,
“kenapa? Kamu udah mau jadi pacar aku?”.
Dia menatapku dengan heran, mungkin sekarang yang dia lihat seperti aku
yang sedang kebingungan.
“Kamu lagi suka sama orang?” pandanganku lurus seperti
sedang melamun. Tanpa pikir panjang dia langsung bilang “Iya”.
“Suka sama orang selain aku?” aku bertanya tanpa
beralasan. Tak tahu apa yang kucari, aku hanya ingin mengobrol dengannya dan
ingin kuluapkan kebingunganku. Tapi sepertinya aku tak bisa menceritakan
kebingunganku padanya. Karena pertanyaan ini cukup membuatnya untuk berpikir
panjang. Itu menyiratkan dia sedang menyukai seseorang selain aku, tak ada
alasan aku untuk mencegahnya. Karena kami hanya berteman.
“Yaudah ga usah dijawab. Aku duluan ya” sambil
kusunggingkan senyumku padanya. Aku pergi meninggalkannya dan berharap yang
terbaik untuknya.
***
- Skip Stories -
Di bangku lorong sekolah, aku melihat seorang siswi
yang sedang bersandar kepala ke bahu pacarnya. Mereka berpegangan tangan dan
saling bercerita satu sama lain. Aku mulai geli jika harus berpacaran seperti
itu, aku belum siap kayanya.
“Heh, lagi ngapain?” Rangga mencoba mengagetkanku yang sedang melamun di luar. Dia memegang kecrekan sambil bernyanyi tak karuan. Aku mengikutinya sambil bernyanyi dengan suara falsku. Aku senang dia tidak berubah, aku suka padanya. Cuman sukaku sebatas pertemanan, aku senang dengannya. Dia baik dan nyambung jika diajak ngobrol, bahkan dia teman karaokeanku di jalanan jika aku lagi dibonceng olehnya. Untuk pernyataan tentang dirinya, lebih baik aku pura-pura tidak tahu. Dan terus berteman dengannya tanpa beban.



Komentar
Posting Komentar