Story Part 8 (3 Months of Love)

 Teman, Sahabat dan Pacar

            “Marsya, Keyla dan Ratna stand by di belakang panggung ya, saat giliran kita kalian langsung ke stage. Buat yang lainnya fokus timing masuk dan check partnernya masing-masing. Gendang sama sound system udah ready ya. Okey! 5 menit lagi giliran kita tampil. TEATER TIRTA?!!!” teriaknya sungguh membuat semua orang  yang mendengar terbakar semangat.

            “Hap! Hap! Hap! SEMANGAT!!!” serentak seluruh anggota Teater bersorak. Saat sang MC memanggil nama Teater kita, kami langsung mengambil posisi sesuai intruksi pelatih saat breafing  akhir tadi. Pandanganku terbatas karena jadwal kami tampil adalah selesai break Maghrib, sehingga sekitaran kami sangat gelap. Hanya lapangan yang terlihat karena adanya bantuan sorotan lampu tiang dan lighting panggung. Stage kami di lapangan, karena panggung sudah dipenuhi dengan perangkat sound system dan gendang. Untunglah gelap hanya bayangan segerombolan orang yang terlihat, setidaknya tidak terlalu membuatku grogi walaupun pandanganku tidak fokus pada 1 titik.

            Alunan musik dimulai yang sontak membuatku menari mengikuti ritme seperti yang dilakukan pada saat latihan, kumainkan selendang yang terikat dipinggangku kesana dan kesini. Ritme meninggi dan kami bergantian mengubah posisi dengan masuknya 1 persatu peran yang datang. Hingga tiba akhir pertunjukan dengan diwarnai pemegangan kembang api oleh para pemain peran terakhir.

DUNG DUNG, DUNG. BRAK! BRAK!

            Penekanan nada pada gendang ini menandai berakhirnya kami di stage dan para penonton bertepuk tangan ramai dengan siulan sesekali. Aku berjalan ke belakang panggung lalu masuk ke kelas tempat berkumpulnya Teater sebelum tampil. Kami semua berkumpul dan bersyukur atas tak ada halangannya akan penampilan tadi.

            Acara tahunan sekolah ini berjalan lancar, setelah penampilan Teater dilanjutkan dengan penampilan beberapa band hingga nanti malam dengan batasan sampai jam 10 malam acara berlangsung.

            Aku berganti pakaian dan membereskan tasku, lalu bergabung dengan teman-teman yang lain sebagai penonton. Rani dan Tina sudah pulang daritadi sore, mereka memang tidak terlalu tertarik akan acara-acara seperti ini. Jadi aku berkumpul dengan Marsya, Rangga dan teman-teman lain yang kukenal. Melihat handphoneku mati, jadi kumasukkan saja ke dalam tas. Suasana terlihat gelap karena minimnya penerangan, jadi terlalu sulit untuk mengenali orang sekitar kita.

            Lalu ada yang menepuk bahuku, aku melihatnya dari dekat untuk mengetahui siapa dia. Saat kudekatkan wajahku, dia malah menutup mataku dengan tangannya. Aku berontak dan bertanya siapa dia. Dia hanya tertawa dan melepaskan tangannya dari mataku. Tawanya tak begitu terdengar karena suara musik yang menggelegar dari speaker. Aku lihat dia dengan jelas, mukanya mulai terlihat dari pantulan cahaya panggung. Dia masih tertawa dan berkata, “Keyla, aku ada makanan. Makan dulu yuk” di tangan kirinya terlihat kresek putih yang berisi makanan.

            Aku sangat senang dan bahagia melihat orang itu Vino. Dengan senyumnya yang khas dia berkata “kita makannya di kelas aja biar enak dan terang, kamu belum makan kan dari tadi?”. “Iya belum, kebetulan lagi laper” aku sangat bersyukur dengan adanya dia, dia tak pernah menunjukkan apapun kepada orang lain tentang kita, dia orang yang ceria dan selalu ramah ke setiap orang. Dia orang yang bijak dan selalu menghargai orang lain.

            Dalam kerumunan orang banyak dan gelap, dia memegang tanganku dan menarikku ke dalam kelas. Kami makan bersama dengan spaghetti cina alias kwetiaw yang ada di hadapan kami. Dia bercerita banyak hal termasuk tentang penampilanku tadi. Aku memerhatikannya, aku memandang wajah dan dirinya. Ya Tuhan, dia sungguh tampan dan berkepribadian baik. Walaupun kucoba ubah penampilanku, aku merasa masih belum cukup pantas untuknya. Masih terlalu jauh rasanya.

            Dia bercerita sambil menertawakan cerita tersebut, matanya menyipit dan gigi rapinya terlihat semua. Akupun ikut larut dalam cerita tersebut yang sesekali mengagumi dirinya.  “Vino, makasih banyak yah. Kamu memang temen yang paling baik” aku mengatakannya dengan tulus dari hati.

            Vino terdiam dan berpikir, “Key, sepertinya aku ga bisa terus seperti ini. Tak apa, jika aku ga seperti ini lagi?”. Aku tertunduk dan sakit rasanya, namun itu haknya dia, akupun tak ingin dia terus seperti ini. Ini hanya membuatku sedih, aku merasa terlalu beda dengannya. Aku yakin, di luar sana ada yang jauh lebih pantas untuknya. Dan menjadi couple terfavorit di sekolah walaupun menyisakan banyak para siswi yang patah hati.

            “Iya gapapa Vino.. Aku beruntung bisa mengenalmu. Makasih ya” dia hanya menghela nafas saat kukatakan ini. “Kamu mau pulang kan, aku antar kamu pulang dulu ya” sambil merapikan bungkus makanan kami untuk dibuang.

            “Ah ga usah, pulang duluan aja. Lagipula Marsya tadi minta aku temenin buat nonton band kelasnya tampil nanti” untung aku ingat Marsya, sebenarnya dia tidak memintaku apa-apa. Namun jika aku bersamanya malam ini, membuatku terlalu serakah tanpa memikirkan perasaannya.

            “Nanti pulangnya gimana? Dianter siapa?” dia mulai mengkhawatirkan aku. Akupun takut untuk menaiki angkutan umum jam segini.

            “Yang penting bareng Marsya, kayanya nanti dianter sama Rangga” dia tahu kedekatan aku dengan anak-anak Teater dan juga anak-anak kelas. Sepertinya itu membuatnya tenang.

            “Yaudah, hati-hati ya. Sekarang Marsya dimana? Kita kesana, lalu aku pulang” dia mengusap kepalaku dan memainkan kuciranku.  Aku tersenyum dan menghampiri Marsya di depan panggung, aku melihat Vino dari kejauhan dan dia melambaikan tangannya untuk berpamitan pulang. Aku mengangguk dan diapun menghilang.

            Dari depan panggung terlihat lenggang tidak begitu padat dengan kerumunan orang. Sehingga terlihat jelas orang-orang sekitar kita, ditambah cahaya lampu dari panggung. Sedangkan kerumunan berada di pinggir lapangan. Saat kulihat ke sebelah kanan, kulihat sepasang kekasih yang berpelukan. Sang perempuan dipeluk oleh pacarnya dari belakang dengan mengayun ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik. Aku berpikir, kapankah aku berada di posisi itu? Dan siapakah orang yang ada di belakangku? Sepertinya kalo Vino tidak mungkin.

            “Key, coba hubungin Rangga. Dia lagi di sebelah mana? Nih pake baterei aku, aku lagi ga ada pulsa” dia menyodorkan hpnya. Aku coba menyalakan hpku untuk menghubungi Rangga, belum sempat aku menelepon Rangga ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.

            Kubuka pesan itu dan kubaca.

            ‘Key, jangan lupa kabarin kalo ga ada yang nganterin. Hati-hati ya. Aku sayang kamu. Dari temanmu, Vino’

            Pandanganku datar setelah membacanya. Aku berpikir dan kesal pada diriku sendiri. Ada apa ini, ada apa denganku. Aku merasa tak ingin lagi bertemu dengannya. Aku tak ingin dekat lagi dengannya.

Kulanjutkan kembali mencari nomor Rangga tanpa membalas pesan dari Vino dan menghapus pesan itu.

***

            Persiapan ujian kenaikan kelas hampir tiba, dan setiap guru sudah memberikan latihan soal untuk para muridnya agar ada gambaran saat ujian nanti. Untuk persembahan dari kelas kita dalam praktik bahasa Indonesia, kami sudah menyiapkan drama komedi romantis ala DUO Lenje yang dibantu Panjul sebagai pemeran utamanya.

            Selagi anak-anak kelas menyiapkan dramanya, kami anak Teater juga menyiapkan kabaret untuk acara perpisahan kelas 3. Kami sudah mendapatkan perannya masing-masing dan latihan seminggu 3 kali. Perannya kali ini sangat menantang, mau tau apa perannya??

            Bukan peran antagonis ataupun menggunakan adegan silat, namun peran yang aku dapat adalah menjadi alien dengan keempat alien lainnya dan berbasic komedi. Jadi bayangkan saja alien dengan bentuk baju dalaman dan kepala yang melendung besar ke atas. Loncat sana dan loncat sini seperti para kurcaci dalam adegan Putri Salju. Sungguh memalukan, tapi sudah tak berlaku lagi sepertinya buat kami dan aku ga keberatan untuk memainkan peran itu.

 Saat latihan teater, kami mempersiapkan diri bermalam di sekolah karena malam ini adalah latihan terakhir kami sebelum ujian kenaikan kelas. Banyak para alumni Teater yang sudah kuliah maupun kerja yang datang ke acara bermalam kami. Ada yang membantu dan berdiskusi, karena kami berencana menyiapkan pertunjukan akbar di sekolah kami.

Aku dan Rangga bermain di tempat sound system dan bernyanyi bersama senior lainnya. Sedangkan Marsya yang berperan sebagai pemain utama sangat serius membaca naskah untuk pertunjukan akbar nanti. Dia memang begitu serius mengikuti Teater dan aktingnya tak kalah dengan senior lain. Sedangkan aku, aku hanya tim penggembira saja yang menghabiskan waktuku untuk bisa bersama-sama dan berjuang di Teater ini. Cukup dengan ada orang-orang seperti kalian yang membuat hari-hariku ramai.

Aku tak bisa diam, berjoget kesana-kesini sambil tertawa bersama teman-teman yang lain. Sampai tiba jam tidur, Marsya sudah tidur duluan di UKS karena kelelahan latihan tadi dan berdiskusi dengan para alumni. Tapi tidak untuk kami, karena kami sudah berpesta kopi dan begitu senang untuk bisa mengalami bermalam di sekolah.

Sampai merasa kelelahan, pesta kecil-kecilan kami berhenti. Seniorku ada yang masuk ke UKS dan ada  yang duduk mengobrol santai di pojokan dengan yang lainnya. Rangga tak terlihat, dan aku duduk di atas panggung, melihat ke arah tempat penonton. Aku memikirkan Vino, bagaimana kabarnya sekarang. Semenjak acara tahunan sekolah, kami tidak pernah mengobrol lagi. Hanya sesekali tersenyum saat berpapasan dan tertawa bersama saat mengobrol dengan Said.

Pikiranku terasa berat, saat memikirkan apa yang menjadi masalahku sehingga membuat aku tak ingin terlalu dekat dengannya. Apa karena minder, dia terlalu sempurna? Dalam lamunan, tiba-tiba ada seorang alumni yang berkacamata dengan baju sweater merahnya datang menghampiri dan duduk di sebelahku dengan jarak 2 langkah.

Aku terheran, siapa dia? Oh mungkin salah satu alumni. Dia mulai membuka percakapan dan kita larut dalam obrolan ringan. Di dalam obrolan, pikiranku menerawang dan berpikir. Aku ingin menjadi apa kelak, melihat para alumni yang bersekolah lagi mengambil jurusannya masing-masing, ada yang jadi penyiar radio dan ada juga yang menjadi guru TK.

Orang  yang disebelahku ini bernama Firman, dia mahasiswa dari salah satu universitas yang ada di Bandung. Dia baru lulus setelah Kak Hana masuk ke sekolah ini, berarti beda berapa tahun ya denganku? Jurusan yang dia ambil, aku tidak terlalu mengerti jadi kuiyakan saja semua yang dia katakan, termasuk permintaan dia yang ingin menjadikan aku pacarnya. Padahal, kami baru mengobrol sekitar sejaman lebih.

Setelah kuiyakan, aku pergi ke UKS untuk tidur dan dia mengantarkanku sampai ke UKS lalu pergi.  Pengaruh kafein masih sangat terasa, aku membenarkan posisiku agar tidurku nyenyak. Rangga masuk ke ruangan UKS dan bertanya “Key, kamu gapapa? Kamu udah mau tidur?”.

“Iya Ngga, kalo ga tidur, besok di kelas bisa-bisa ngantuk” Rangga lalu pergi sepertinya dia menahan untuk bicara, lalu dia kembali lalu pergi lalu kembali, aku tidak mengerti kenapa Rangga bolak-balik masuk hanya untuk menanyakan keadaanku. Aku coba memenjamkan mata, dan mencari alasan kenapa aku mengiyakan permintaan Kak Firman.

Wait?!! Aku sekarang punya pacar?? Dan namanya Firman, bahkan aku ga tau nama lengkapnya. Dan kami baru saja kenal, itupun kami baru mengobrol selama 1 jam lebih. Bahkan aku tidak terlalu jelas melihat mukanya dan aku ga hafal. Ya Tuhaannnnn… Apa yang kulakukaannnn… Gampangan banget sih gue kalo gitu. GILA!

***

Keesokan harinya, kami bangun dari subuh dan untuk pertama kalinya mandi di sekolah. Waahhh seperti ini yah, suasana pagi hari di sekolah yang belum terlihat siapapun yang datang. Aku seperti melihat suasana di pegunungan saja dengan pengalaman bermalamku ini.

Setelah mandi kami mulai bersiap-siap pakai seragam sekolah, karena kami harus masuk kelas sedangkan yang lain ada yang masih membuat properti. Selama di kamar mandi, aku dan Marsya mengobrol dan kuceritakan tentang kejadian semalam.

“Iya aku tahu orangnya, yang pake kacamata yang tinggi itu kan, dia pake sweater abu” eh abu ya, malah yang kuingat dia memakai baju merah bukan abu. Kayanya Marsya hafal banget dan responnyapun datar, bahkan dia tahu sebenarnya nama Kak Firman itu Firmansyah padahal dia juga baru kenal semalam.

Kami masuk ke kelas kami masing-masing sebelum berkumpul kembali di Aula. Di kelas, kami diberi kisi-kisi dan ucapan selamat tinggal dari para guru karena guru-guru yang akan mengajar di kelas 2 nanti itu mungkin berbeda.

Seiring ucapan selamat tinggal dari guru, aku melihat orang-orang sekitarku. Rani, Tina, Boni, Said, Tantra, Mira, Romi dan kawan-kawan. Aku sudah lama tak bersama mereka, bercanda dengan mereka, karena sekarang aku lebih sering latihan Teater dibanding berkumpul dengan mereka. Aku sepertinya akan rindu dengan mereka. Tapi mungkin, kita bersama lagi di kelas 2.

Jam pulang sekolah, aku bersua dengan Rani dan Tina dan memberikan mereka kenang-kenangan sebelum pulang dan menulis sesuatu seperti Diary. Kepolosan Tina, sundanya Rani dan tingkahnya DUO Lenje akan menjadi kenangan, dan juga kelas ini, terutama spot jendela dengan view lapangan yang menjadi favorit. Aku pasti benar-benar merasa kehilangan, apalagi Said. Dia adalah teman menggilaku yang paling The Best.

Aku berjalan menuju ruang Teater untuk mengambil barangku yang kusimpan disana kemarin, ruang Teater kami tepat berada di atas ruangan OSIS. Begitu banyak orang yang berkumpul di ruangan OSIS, ada beberapa yang sedang menulis di selembar kertas.

“Keyla! Kamu ikutan ga? Sini kamu” ujar senior Teaterku yang sekaligus anggota OSIS. Dia orang yang bersamaku tadi malam untuk berpesta kopi. Aku ingat dengan laga dia yang menirukan joget Agnes Monica, sungguh lucu.

Aku menghampirinya dan bertanya “Ikutan apaan Kak?”. Dia menjelaskan tentang perekrutan pembimbing siswa-siswi baru nanti pada saat MOS. Jadi, perekrutan dengan cara menyeleksi biodata orang yang daftar lalu di briefing.

“Jadi, sekarang kamu serahin biodata aja. Nanti aku yang urus” dia langsung menyuruhku untuk menulis namun aku tidak membawa alat tulis sama sekali.

“Tasku ada di Aula Kak, aku bawa dulu kalo gitu” sambil berancang untuk pergi.

“Hei Keyla!” dia memegang kepalanya dengan gaya ala pusing Mba Meggy Melati Sukma. Cowo ini emang agak melambai, tapi dia tetep normal kok #lho. Dia langsung menyobekkan kertas biodata peserta lain yang sudah dikumpulkan. Lalu menyerahkan kepadaku hasil sobekan tersebut  dan pulpen, dia menyuruhku untuk menulis biodata dan dikumpulkan. Emang seperti bidadari hati ini orang, modus gue.

 Aku mengumpulkan biodataku dan tak lupa berterima kasih. Langsung bergegas ke Aula untuk bergabung dengan anak Teater lainnya. Ternyata disana sudah ada Kak Firman, aku langsung mengambil tempat duduk yang agak berseberangan dengannya. Aku tak ingin bersebelahan dengannya, karena itu terlalu aneh buatku.

Selesai berdoa untuk kesuksessan kami yang menghadapi ujian kenaikan kelas, kami bubar dengan bersalaman antar anggota Teater. Kak Firman datang mendekatiku dan mengajakku untuk makan bersama namun ku bilang ingin pulang cepet untuk belajar.

“Kalo gitu, aku anter pulang ya” dia bersiap sambil mengambil tas hitamnya. Belum sempat dia mengajakku, aku cepat sanggah dia. “Kak, aku dah janjian pulang bareng temen di depan. Jadi gapapa ya aku pulang duluan” aku langsung berlalu tanpa mendengar jawabannya. Aku masih asing dengannya, padahal dia adalah pacarku.

Sampai di depan gerbang sekolah, aku langsung mencari siapapun yang kukenal untuk pergi bersama. Yang penting pergi dari gerbang ini bersama orang lain, karena aku tahu dia pasti akan menyusulku kesini. Beruntungnya aku, karena disana terlihat Said yang sedang mengeluarkan motor.

Aku langsung menyergapnya dari belakang, “Id, kita pulang bareng Id. Please urgent, jangan banyak tanya. Pokonya biasa aja trus pergi dari sini” aku menarik tali tasnya, untuk menandakan kalo aku sedang dalam kesulitan.

“Oh okey, okey. Bentar aku keluarin motor dulu dari parkiran nih” dia langsung memakai helmnya dan memboncengku dengan helm pinjeman. Syukur deh, aku bisa kabur kali ini. Kak Firman, maaf… Memang aku ada masalah dengan hal ini, aku terasa takut untuk menjalaninya.

***

Ujian kenaikan kelaspun berakhir dan kami bisa bernafas lega menghadapi libur panjaaang! Tapi libur panjang kali ini sepertinya tak akan kurasakan. Selain penampilan kabaret di acara perpisahan kelas 3, aku terpilih menjadi salah satu pembimbing siswa-siswi baru di MOS nanti. Tak apa ga liburan, setidaknya aku mengisi dengan kegiatan yang lebih seru. Pasti menyenangkan!

Kelas menjadi kelas bebas di minggu terakhir sekolah, jadi situasi kelas agak sepi , hanya tas-tas yang tak bertuan di atas meja, termasuk di mejaku. Karena aku disuruh Kak Hana untuk mengecheck properti kabaret yang ada di Aula, apakah kondisi masih aman atau tidak.

Ternyata Aula sangat ramai, karena banyak yang sedang bermain badminton disana. Aku memutari yang sedang bermain tersebut lalu mengecheck ke belakang panggung. Setelah memastikan semuanya aman, aku bermaksud untuk pergi ke kantin. Tapi ada yang kukenal disana, salah seorang yang bermain badminton tersebut adalah temannya Romi yang juga kukenal akrab.

Melihatnya bermain sangat bagus, aku duduk di pinggir garis badminton untuk menontonnya sebentar. Di sebelahku ada siswa yang memakai jaket bernuansa army, lalu dia mengajakku ngobrol tiba-tiba.

“Dia bagus ya mainnya, aku juga bisa tapi dah lama ga main” aku heran, siapa dia? Memang aku mengenalnya?

“Iya. Dia memang bagus mainnya. Aku juga pengen main tapi gak PD haha” dan aku langsung  main timpal. Dasar, ga tau diri aku ini. Kami mengobrol sebentar, hingga temanku yang bermain badminton menghampiri kami.

“Marcel, tadi aku 4 set bisa smash, kamu set berapa kemarin?” badannya penuh dengan keringat, untungnya dia bawa handuk kecil di tangan. “Haha belum nih” dia tertawa dengan menarik lengan baju armynya ke sikut. Aku melihat orang ini, kayanya dia tinggi karena tangan dan kakinya terlihat begitu panjang. Badannya berisi dan lesung pipitnya yang di sebelah kiri terlihat jelas saat dia tersenyum.

“Key, kamu mau main ga? Nih raketnya kalo mau main” dia menyodorkan raketnya sambil mengusapkan handuk ke mukanya yang penuh dengan keringat. Sebelum dia melepaskan raketnya aku buru-buru jawab, “Engga Fer, aku ga bisa. Aku juga pernah main tapi itu waktu SD haha”. Jika aku bermain disini bisa-bisa jadi bahan lelucon, mereka terlihat begitu expert memainkannya.

“Eh Fer, aku mau ke kantin. Kamu mau nitip beli minum ga?” dia terlihat begitu haus sedangkan air mineral yang ada hanya tinggal sedikit. Tanpa pikir panjang dia langsung mengiyakan penawaranku itu.

Aku langsung melesat ke kantin dan membeli apa yang ingin kubeli. Di kantin aku bertemu dengan Vino yang sedang memakan mie goreng. Kami bertemu pandang dan pura-pura tidak melihat satu sama lain. Setelah mendapatkan apa yang kubeli, aku berjalan keluar kantin sambil berpikir.

Baru lima langkah dari kantin, aku langsung berbalik dan masuk kembali ke dalam kantin. Aku dekati dirinya dan duduk di sebelahnya, “Vino, kamu sudah punya pacar?”. Dia mengernyitkan dahinya dan bertanya, “kenapa? Kamu udah mau jadi pacar aku?”.  Dia menatapku dengan heran, mungkin sekarang yang dia lihat seperti aku yang sedang kebingungan.

“Kamu lagi suka sama orang?” pandanganku lurus seperti sedang melamun. Tanpa pikir panjang dia langsung bilang “Iya”.

“Suka sama orang selain aku?” aku bertanya tanpa beralasan. Tak tahu apa yang kucari, aku hanya ingin mengobrol dengannya dan ingin kuluapkan kebingunganku. Tapi sepertinya aku tak bisa menceritakan kebingunganku padanya. Karena pertanyaan ini cukup membuatnya untuk berpikir panjang. Itu menyiratkan dia sedang menyukai seseorang selain aku, tak ada alasan aku untuk mencegahnya. Karena kami hanya berteman.

“Yaudah ga usah dijawab. Aku duluan ya” sambil kusunggingkan senyumku padanya. Aku pergi meninggalkannya dan berharap yang terbaik untuknya.

***

- Skip Stories -


Di bangku lorong sekolah, aku melihat seorang siswi yang sedang bersandar kepala ke bahu pacarnya. Mereka berpegangan tangan dan saling bercerita satu sama lain. Aku mulai geli jika harus berpacaran seperti itu, aku belum siap kayanya.

“Heh, lagi ngapain?” Rangga mencoba mengagetkanku yang sedang melamun di luar. Dia memegang kecrekan sambil bernyanyi tak karuan. Aku mengikutinya sambil bernyanyi dengan suara falsku. Aku senang dia tidak berubah, aku suka padanya. Cuman sukaku sebatas pertemanan, aku senang dengannya. Dia baik dan nyambung jika diajak ngobrol, bahkan dia teman karaokeanku di jalanan jika aku lagi dibonceng olehnya. Untuk pernyataan tentang dirinya, lebih baik aku pura-pura tidak tahu. Dan terus berteman dengannya tanpa beban.

Komentar

Postingan Populer