STORY PART 7 (3 MONTHS OF LOVE)
Langkahku tertahan mendengar teriakan namaku, aku
berbalik namun hanya lalu lalang orang yang sepertinya tak ada keperluan
denganku. Aku kembali mengambil langkahku.
“Keyla!” mendadak aku balikan badanku dan mencari sumber
suara. Masa iya ada tukang minyak di sekolah, dan yang terdengar juga bukan Mia
tapi Keyla. Tapi tak ada orang yang memanggilku, aku lebarkan jangkauan
pandanganku dan menangkap 2 orang yang melambaikan tangannya di lantai 2
sebelah kanan. Oh tenyata itu Marsya dan Kak Hana yang ada di depan ruang
Teater, aku segera menghampirinya dan mulai menaiki tangga.
“Ada apa Kak?” Kak Hana duduk di bangku yang ada di
depan ruang Teater dan memakai sepatunya yang berwarna putih biru tua. Lho,
bukannya sekolah kita mewajibkan sepatu yang dipakai siswa itu hitam semua ya,
untuk sedikit poletan putih pun tidak diperbolehkan. Tapi peraturan itu memang banyak
siswa yang tidak mematuhinya, berwarna-warni sepatu yang dipakai yang penting
berwarna gelap sehingga tidak terlalu mecolok. Jika ketahuan ga pakai sepatu
sesuai peraturan, maka sepatu disita sampai pulang sekolah. Tapi sepertinya
sang guru pada kewalahan, jika itu berlaku setiap hari. Terlalu banyak siswa
yang nanti akan berceker ria di sekolah, apa jadinya nanti sekolah ini. Tapi,
para siswa akan mendadak rajin setiap hari senin untuk memakai sepatu hitamnya,
namun tidak berlaku untuk hari selasa dan selanjutnya.
“Gini Key, nanti malam yang ikutan pawai obor kamu sama
Rangga aja yah yang ngewakilin Teater. Soalnya aku sama Marsya ga diijinin
orang tua, kalo aku sih gara-gara rumahnya jauh. Jadi nanti sore jangan lupa
kumpul jam 5 di lapangan ya. Aku dah kasih tau Rangga tadi” aku memang tak ada
jam malam yang ditetapkan oleh orang tua, namun aku cukup tau diri untuk
menjaga sikapku. Orang tuaku sangat mendukung apapun yang aku lakukan, asalkan
kasih kabar dan dengan siapa saat pulang lebih dari Maghrib sudah cukup membuat
tenang orang tua khususnya mamahku.
“Okey siap, eh Marsya nanti temenin aku ya sampai jam 5
sore” dia tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan, karena aku dan Marsya
tergolong sering nongkrong di ruang Teater ini.
Semua orang berkumpul di lapangan dengan menyiapkan tas
yang mereka bawa. Ada yang dari perwakilan ekskulnya masing-masing, OSIS dan
relawan dari kelas 1, 2, 3. Kami semua berkumpul dan mengisi absen yang disebar
OSIS, berbaris dan mulai perjalanan ke Balai Kota Bandung sebagai titik temu
dengan perwakilan dari puluhan sekolah lainnya.
Tiba di balkot semua peserta diberikan obor yang akan
dijunjung selama pawai. Saat langit sudah sepenuhnya gelap, maka obor mulai
dinyalakan dan mengantri untuk memulai perjalanan mengitari kota Bandung. Di
dalam perjalanan, banyak mobil-mobil dan kendaraan lain berhenti hanya untuk
mengambil foto kita untuk mengabadikan moment
itu. Perjalanan tak kunjung berhenti, kami semua terus berjalan dengan obor
yang masih menyala, ini terlihat seperti arak-arakan karena begitu banyak
peserta yang ikut sampai aku dan Rangga sempat terpisah, ketemu dan terpisah
lagi.
Untung saja aku lihat orang yang sama dari SMA Tirta,
walaupun tak kenal aku mencoba mendekatinya dan dia mulai berjalan ke samping.
Ada apa dengannya, apa dia mau berhenti sampai disini. Karena tak sedikit orang
yang menyusul barisan depan dengan naik angkutan umum, karena perjalanan memang
cukup panjang, akupun mulai lelah untuk melangkah.
Dia mulai memasuki gerbang sekolah, tunggu berarti ini
sekolah SMA Tirta dong. Saat kuangkat kepalaku terpampang jelas nama sekolah
SMA Tirta, ya ampun aku tak sadar kalo perjalanan pawai obor ini melewati
sekolah kita dan pemandangan sekolah begitu berbeda saat di malam hari karena
begitu banyak para pedagang makanan di pinggir jalan yang siang hari mereka tak
ada perwujudannya.
Aku mencoba masuk ke dalam sekolah dengan melewati pintu
kecil dari gerbang sekolah itu. Apa ada orang lain juga selain yang tadi masuk
ya, tanyaku dalam hati sembari memerhatikan sekitar yang begitu sepi. Di
lapangan terlihat ada orang dan siswa berseragam sekolah yang membakar kayu dan
sampah, sepertinya petugas sekolah dan siswa yang tadi. Belum sampai aku ke
lapangan, tiba-tiba muncul orang yang keluar dari toilet, ah siswa yang tadi.
“Eh kamu ga ikutan sampai akhir?” tanyanya tanpa
menyebutkan namaku, kita memang tidak saling mengenal hanya lambang sekolah
kami yang menyatukan kami dalam persaudaraan, mulai ngawur nih gue.
“Aku ngikutin kamu, soalnya aku kepisah sama Rangga.
Jadi kesini deh, daripada nyasar” aku membenarkan jaketku karena dingin mulai
terasa. Jam berapa sekarang? Dingin banget.
“Kalo aku cape, jadi ga ikutan sampai beres. Jadi mau
nunggu disini aja. Tuh, dia juga sama” dia menunjuk seseorang yang ada di
lapangan, yang kulihat hanya punggungnya dengan tangan memegang kayu untuk membenarkan
posisi kayu bakar. Aku berjalan ke lapangan mendekati api ungun ala kadarnya
itu untuk menghangatkan diri.
Mendengar langkahku, orang itu pun berbalik dan kaget,
tak kalah kagetnya denganku. Orang itu Vino dengan seragamnya yang dikeluarkan
dari celana. Aku bersyukur, setidaknya ada orang yang kukenal sambil menunggu
orang-orang yang selesai pawai obor.
Sambil menunggu temannya Vino membeli makanan, aku dan
Vino duduk bersebelahan dipinggir lapangan. Yang penting di tempat terang,
karena lapangan terlihat begitu gelap tak ada lampu yang meneranginya. Kobaran
api ungun mulai meredup dan petugas sudah tak ada di tempatnya lagi, namun ada
2 orang siswa di ujung sebelah kiri kami. Mereka jaraknya jauh dengan kami, dan
kami ga tau siapa mereka, mungkin senior kami yang sama kecapean dalam
perjalanan.
Aku melihat sisa-sisa percikan api ungun, sedangkan dia
menengadahkan kepalanya dan menatap langit. Lalu dia mulai bersenandung dan
membuat pandanganku beralih padanya dan langit yang begitu banyak cahaya
bintang.
“Bintang malam katakan padanya, aku ingin melukis
sinarmu di hatinya, embun pagi katakan padanya, biar kudekap erat waktu dingin
membelenggunya” suaranya begitu merdu dan aku hafal lagu ini, lagu rindu dari
kerispatih! Seperti tebak judul lagu saja aku ini. Karena suaranya yang pas
membuatku ingin ikut bersenandung dengannya. Tapi aku sadar akan kualitas
suaraku ini, jadi kuikuti dengan suara perlahan.
“Tahukah engkau wahai langit, ku ingin bertemu membelai
wajahnya, ku pasang hiasan angkasa yang terindah.. Hanya untuk, dirinyaaa” dia
begitu khusyu menyanyikan lagu ini sambil tak berhenti menatap langit, sampai
aku merinding dan membuatku terdiam.
“Lagu rindu ini kuciptakan, hanya untuk bidadari hatiku
tercinta, walau hanya nada sederhana, ijinkan ku ungkap segenap rasa dan
kerinduan” dia sepertinya menyanyi dari hati, atau dia curcol (curhatan
colongan) kali ya dan dia tetap tak bergeming menatap langit.
“Vino, kamu kangen seseorang ya?” aku mencoba membuka
obrolan dengannya . Tapi dia hanya diam dan terlihat sedang berpikir, seperti
dia sedang mengeluhkan sesuatu terhadap langit.
“Lagu rindu ini kuciptakan..” dia mulai bersenandung
kembali, namun sempat terhenti dengan mengalihkan pandangannya ke bawah dan
menghela nafas. Aku perhatikan dirinya dengan perasaan bingung, ada apa
dengannya. Lalu dia menoleh ke arahku dan menyambung senandungnya kembali,
“hanya untuk bidadari hatiku… tercinta.. walau hanya, nada sederhana” senandungnya kali ini berbeda, dia
menyanyikannya terputus-putus seperti memiliki makna dan menatapku dalam-dalam.
Di antara nyanyiannya dia menyebut namaku dengan sambungan lirik lagu tersebut.
“Keyla, ijinkan ku ungkap segenap rasa… dan kerinduan….”
aku hanya berkedip melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Perasaan apa ini,
jantungku berdegub sangat kencang dan badanku terasa sangat dingin sampai
tanganku seakan gemetar.
Dia mulai memegang tanganku dengan erat dan mengubah
posisi duduknya jadi menghadap ke arahku. Aku tak tau harus bagaimana,
jantungku semakin cepat berdetak.
“Keyla” aku mencoba untuk melihatnya dengan perasaan
kacau. Matanya terlihat seperti mencari sesuatu di mataku. Dia mulai mempererat
genggamannya dan berkata “mau ga jadi pacar aku?” hatiku seperti akan meledak
mendengar hal ini.
Aku mulai berpikir keras dengan melihat dirinya. Mata
itu seakan mengharapkan sesuatu untuk membuatnya bahagia. Hidungnya yang
mancung, senyumnya yang manis dengan wajah bak pangeran dalam komik. Kulitnya
yang putih bersinar dengan kepribadiannya yang sangat menarik. Sungguh! Dia
terlalu sempurna untukku.
Aku benar-benar tak pantas dengannya, hanya mencoba
untuk bermimpi saja itu sudah terlalu jauh untuk dijangkau. Tapi, sekarang dia
memintaku untuk menjadi pacarnya dan ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata.
Teringat kembali akan pengalamanku dengan Deni sewaktu SD dan Tyo sewaktu SMP serta cibiran para
antek-antek mengenai apa yang kupunya.
Dan sekarang yang
berada di hadapanku ini melebihi Deni dan Tyo, dia betul-betul perfect dan baru kali ini aku rasakan
untuk ingin bersamanya. Namun jika kuiyakan dan kusanggupi untuk bisa
bersanding dengannya, apa yang akan aku alami untuk dapat bertahan dengannya.
Aku merasa belum cukup pantas untuk bisa bersamanya.
“Vino…” aku mulai mengeratkan genggaman Vino di tanganku.
Mataku mulai berkaca-kaca dan aku mulai menangis di hadapannya “maafin aku…”
mataku tertunduk. Sebelah tangannya mulai melepas genggaman dan membelai rambutku, spontan kepalaku langsung berada di
bahunya dan kumenangis terisak.
“Maafin aku Vino…” tangisku mulai menjadi, dia mencoba
menenangkanku dan mengecup keningku. “Iya, gapapa Keyla.. Kita kan masih bisa
berteman” hatiku terasa sangat sakit mendengarnya dan air mata semakin
membanjiri pipi ini, seperti tak rela. Tapi mungkin, ini yang terbaik yang bisa
kulakukan.
***
Mentari bersinar cerah dan keadaan kota sangat padat. Terdengar
alunan musik sana-sini untuk menemani
orang-orang yang sedang memilih barang kesukaannya, toko-toko terpapar
di sepanjang jalanan alun-alun kota dan banyak kendaraan yang terparkir di
pinggir jalan.
Hari ini, hari Minggu. Hari dimana banyak orang yang
berjalan-jalan untuk bersenang-senang atau menghabiskan waktu dan uangnya untuk
berbelanja. Nah aku lagi berada di posisi keduanya, yaitu berjalan-jalan
menemani mamaku belanja sambil berbelanja disaat ada barang yang kusukai.
Saat memasuki toko sepatu, mamahku gencar sana-sini
melihat sepatu yang cocok dengannya. Terlalu rugi buatku, jika aku hanya
mengekor mamahku saja. Jadi kuhabiskan waktu tungguku dengan melihat sepatu
sekolah yang terpampang berwarna-warni dari berbagai brand. Sepatu hitam putih dengan brand converse memang masih populer dan tak habis dimakan waktu. Malahan
sekarang tersedia berbagai macam warna yang dikombinasikan dengan warna putih
di solnya itu.
Kulihat satu persatu sepatu yang terpampang itu, dengan
sesekali melihat harganya. Kucari sepatu yang berwarna hitam semua agar bisa
kugunakan ke sekolah. Tapi modelnya sekarang bermacam-macam dan agak berisi,
aku lebih suka sepatu yang ramping dan simple.
Susah sekali ya mendapatkan sepatu yang sesuai dengan keinginan kita. Aku
menyerah dan mulai mencari sosok mamahku.
Aku berjalan sambil melihat sepatu yang kulewati dan
mulai berhenti saat kulihat sepatu converse
dengan kombinasi warna biru muda dan biru jeans
yang dominan dengan pinggir sol
berwarna putih. Kulihat harganya masih terjangkau dan mencoba sepatunya untuk
mengukur nomor berapa yang pas denganku. Lalu aku berlari ke arah mamahku dan
merayunya untuk membeli sepatu yang kuinginkan.
Mamahku sempat tidak setuju, karena warna sepatu yang
tak sesuai dengan aturan sekolah. Tapi aku merengek ingin sepatu itu dan merayu
bahwa sepatunya akan kepakai karena aku akan memakainya ke sekolah dan
menjelaskan bahwa sepatu itu bisa digunakan selain hari Senin. Akhirnya mamahku
luluh juga dengan membelikan sepatu tersebut dan aku senang sekali karena aku
sudah jatuh cinta sama sepatu ini. Aku dari dulu memang menjadi suatu yang taboo untuk membeli sesuatu yang tak ada
hubungannya dengan sekolah. Jadi jika
tak ada gunanya untuk sekolah, barang itu akan jarang digunakan dan terlihat mubadzir.
Memasang tali sepatu adalah pekerjaanku setiap
minggunya. Tapi hari ini, kulakukan lebih awal untuk sepatu baruku ini. Dengan
ditemani alunan musik di kamar, aku menyiapkan keperluanku untuk sekolah besok.
Kusiapkan dari seragam sampai buku sekolah yang akan kubawa besok.
Aku mulai melamun saat alunan musik mengalih ke lagu
yang tak asing lagi dari kerispatih. Judulnya sudah pasti adalah ‘Lagu Rindu’,
dengan lagu ini aku mulai memikirkan Vino. Berpikir apa yang membuatku tak
pantas untuknya dan apa yang jadi masalahku untuk bisa berhadapan dan berpikir
bahwa aku sama dengan yang lainnya. Apa yang membuatku merasa bahwa aku tak
cocok untuk bersanding dengan keledai sekalipun.
Pikiranku mulai terpusat saat kulihat sepatu baruku, dan
beralih pandanganku ke seragam sekolah yang kusiapkan tadi. Apa karena
seragamku? Dan sepertinya saat akan kupakai sepatu baru nanti, agak kurang
cocok jika dipakai dengan seragam ini. Maka kuputuskan untuk merapikan
seragamku ‘pas’ dengan ukuran badanku. Kubawa seragam satunya lagi bersama
mamahku ke tukang jahit untuk dikecilkan.
***
Upacara pagi seperti biasa terselenggara dengan lancar
dan hari ini Tina tidak terlambat datang ke sekolah lagi. “Key, tumben rambut
kamu diiket” aku tersenyum dengan perkataan Tina. Ini pertama kalinya rambutku
aku kucir kuda, agar terlihat rapi dan ga berantakan karena rambutku termasuk
ke kategori mengembang dan kering.
Disela obrolan kami, Mira mulai mengadakan pengumuman di
depan kelas. Bahwa dirinya sekarang berjualan kerudung, mangset tangan dan kaos
kaki. Mengingat aku memiliki sepatu baru maka langsung kupesan kaos kaki ke
Mira. Ngomong-ngomong soal Mira, dia sekarang bukan teman sebangkuku lagi.
Karena teman sebangkunya sudah sembuh dan sudah mulai masuk sekolah.
Jadi teman sebangkuku sekarang adalah Tantra, Tantra
tentu saja bukan perempuan, itu terlihat jelas dari namanya. Tapi kenapa aku
sebangku dengan laki-laki? Aku adalah orang yang satu-satunya tidak memiliki
teman sebangku, karena teman sebangkuku pindah sekolah yang baru beberapa
minggu sekolah disini.
Di barisan pojok kanan yang dekat jendela itu ditempati
dengan perempuan di meja 1, 2 dan 3 dengan aku yang berada di meja ketiga. Di
meja ke 4 dan seterusnya diisi oleh laki-laki semua. Alhasil yang di belakang
pindah ke depan dengan menyisakan 1 orang di belakang.
Menunggu murid pindahan baru sebagai pengganti teman
sebangkuku itu, aku dijadikan ban serep. Jadi disaat teman sebangkunya tak ada,
dia akan pindah sebangku denganku. Dengan kondisi ini, membuatku hafal dengan
sikap-sikap mereka yang pernah sebangku denganku. Karena tak jarang saat
pelajaran dimulai, teman sebangkuku ini akan curhat sesuatu tentang dirinya.
Kebanyakan laki-laki yang sebangku denganku, jadi cerita
yang sering kudapat tak lain adalah tentang perempuan. Dan ada salah satunya
yang suka dengan Tina, Tina memang manis banyak yang suka padanya bahkan dari
kelas lain. Dia terkadang meminta bantuanku untuk bisa mengobrol dengannya.
Sering kali juga aku menjadi mak comblang
untuk teman-temanku sendiri, yang bahkan membuat mereka sampai jadian. Tapi
untuk diriku sendiri sulit.
Kembali lagi pada Mira, Mira yang dulu pertama kali
memaksaku untuk ikut ekskul Teater. Tapi kini dia sering absen untuk latihan
Teater , memang sekali kita absen latihan akan terasa ketinggalan jauh materi
yang didapat dan merasa terasingkan. Sebenarnya itu hanya sugesti kita saja
karena aku pernah mengalaminya saat aku bolos latihan sekali. Entah apa yang
membuatnya enggan untuk bisa kembali ke Teater, karena setiap kutanya dia hanya
tersenyum dan bilang “lanjutkan perjuanganmu Key”. Aku tidak mengerti, aku
hanya berpikir mungkin Teater disini tidak sesuai dengan harapannya. Mata
berbinarnya mengenai Teater yang pernah dia tunjukkan padaku waktu itu sudah
tak ada lagi.
Tapi berkebalikan denganku, aku yang berniat hanya
sementara untuk bergabung dengan Teater malah kebablasan. Tak kusangka, di
Teater ini aku menemukan kenyamanan dan keluarga baruku. Aku merasakan
kedekatan dengan mereka seperti saudara. Disini tempat semua aku bisa curahkan,
disaat orang lain berteriak dan tertawa sendiri disebut gila, sedangkan kami
apapun hal aneh yang kami lakukan akan disebut bagian dari profesi. Itulah
salah satu manfaat dari ikutan Teater haha.
Semenjak pementasan Teater di sekolah dan diluar yang
aku ikut serta berperan di dalamnya, menjadikan aku untuk tampil PD di hadapan
semua orang. Jika aku merasa tak mampu untuk tampil PD, cukup fokuskan saja pandangan
kita pada 1 titik sehingga konsentrasi kita tak akan buyar dengan keadaan
sekitar kita.
“Key, besok kaos kakinya ya” seru Mira dengan sumringah,
dia memang bagus dalam berbicara dan pintar. Sehingga tak sulit baginya dalam
memulai bisnis yang memerlukan komunikasi dan kemampuan dalam marketing.
Buktinya, di hari pertama launching
dia sudah kebanjiran order.
“Tenang Mir, aku pakainya hari Rabu kok” senyumku sambil
membayangkan sepatu baruku. Engga tahu pelet apa yang dipake sepatu itu, yang
buat aku bener-bener jatuh cinta sama itu sepatu. Aku mulai membereskan mejaku dan
bersiap untuk turun ke bawah.
“Key, nanti tunggu di depan Aula ya. Aku mau ke ruang
guru dulu sama Rani” ujar Tina sambil memegang kertas tugas Sosiologi. Punyaku
sudah aku kumpulkan tadi pagi, karena aku kerjakan sendiri walaupun tugasnya
harus dikerjakan dengan tulisan teman sebangku.
Aku berjalan menuruni tangga dan PUK! Ada tangan
seseorang dari belakang yang hinggap di kepalaku. Aku terperangah dan kulihat
dirinya, dia tersenyum jahil dan menggoyang-goyangkan iketan rambutku. “Apa
ini….” dia mulai memainkan rambut kucirku.
“Ahh Vino…” sambil membenarkan iketan rambutku. Aku
berbalik dan melihat dirinya “Emang jelek ya kalo dikucir?” aku menunggu
jawabannya agar aku tahu mana yang dia sukai, diurai atau dikucir.
“Engga, bagus kok. Cuman tumben aja. Kamu tambah manis
kalo dikucir kaya gini” jarinya membenarkan posisi poniku yang mungkin
berantakan setelah seharian sekolah. Aku tersipu malu, dan mulai membalikkan
badanku lagi. “Mana Rani sama Tina? Udah pada pulang duluan?” dia mulai
menuruni tangga.
“Engga, mereka lagi di ruang guru. Kami malah mau main
ke rumah Rani, aku nunggu mereka di depan Aula. Mau ikut?” sebenernya sih cuman
basa-basi aja ngajak Vino, soalnya akan terasa sangat aneh jika dia ikut.
“Sok aja kalian. Aku kesana dulu ya, have fun Key” dia berlalu dengan
melambaikan tangan. Kami memang hanya berteman, namun yang kurasakan aneh jika
berbicara dengannya. Terasa nyaman dan selalu mencari sosoknya saat aku melewati
kelasnya atau pada jam pulang sekolah. Dia memang baik, tapi aku merasa seperti
bumi dan langit jika bersanding dengannya di hadapan orang.
Setelah sosok Vino menghilang, aku menunggu Rani dan
Tina di depan Aula. Banyak lalu-lalang murid yang melewatiku, khususnya arah
keluar sekolah. Pada jam pulang sekolah, kita baru menyadari bahwa siswa SMA
Tirta itu lumayan buanyak. Namun dari kerumunan banyak orang seperti ini, aku
masih bisa mengenali sosok Kak Regi. Aku melihatnya tertawa ceria, sambil
berbicara menghadap ke orang yang ada di sebelahnya. Dan orang itu adalah dirigent kemarin.
“Key, itu bukannya Kak Regi yah?” tanya Rani dari
belakangku. Tina mencoba melihatnya dengan jelas “Iya itu Kak Regi sama dirigent itu, gosipnya mereka udah
pacaran lho. Itu yang aku denger dari para senior waktu aku lagi shalat”.
“Yee kamu tuh shalatnya bener ga? Masa lagi shalat malah
ngedengerin yang gosip” aku respon Tina dengan tidak membubuhi keingintahuanku
lagi tentang Kak Regi. Akan kuhilangkan semua tentangnya yang mengganjal di
hatiku ini. Tentang alasannya waktu itu, aku sudah tak ingin tahu. Biar aku
jadikan misteri dan kuikhlaskan saja.
“Udahlah Key, kan masih ada Vino. Jauh jauh jauh lebih
ganteng dll deh sama Kak Regi” sepertinya Rani sudah merelakan Vino dari list
kecengannya dan Tinapun mengiyakan ucapan Rani dengan pasti.
“Apaan sih kalian..” nadaku terlihat malu, “hayyu kita
ke rumah kamu Ran”. Kami berlenggang keluar sekolah dengan canda dan tawa yang
menghampiri kami.
***
Hari Rabu tiba, kusiapkan diri untuk berangkat ke
sekolah. Rambut yang kukucir kuda, dengan seragam habis dipermak. Kaos kaki
yang kubeli dari Mira aku pakai, namun terlalu panjang hingga sampai betis.
Tapi tak apa, akan kupakai bersamaan dengan sepatu baruku ini. Bisa dibilang
penampilan baru, tapi apa tak akan terlihat aneh nanti di sekolah. Lebih baik
aku bekal seragamku yang belum dipermak, jaga-jaga jika terjadi sesuatu.
Setiba di sekolah, tak begitu banyak yang menyadarinya.
Sehingga membuatku nyaman untuk berpenampilan seperti ini. Aku masuk ke dalam
kelas, namun aku heran karena ada seseorang yang asing di bangkuku.
“Dia anak baru pindahan itu Key” ujar Tantra. Apa? Dia
anak baru, yang berarti teman sebangkuku. Ya Tuhan, kenapa laki-laki anak
barunya.
Kami berkenalan nama, dan aku duduk di sebelahnya. Dia
terlihat anak pendiam, tidak begitu banyak yang dia ucapkan. Dalam pelajaranpun
dia pasif, apa mungkin karena dia anak baru ya. Aku tidak begitu akrab
dengannya, sikapnya pada perempuan dingin, namun jika bersama kaum sebangsanya
yaitu laki-laki dia terlihat tawa sana-sini.
Aku mengerti sekarang, dia tidak nyaman dengan perempuan
apalagi di lingkungan baru. Tantra sepertinya mengerti tentang hal ini, dia
bertukaran tempat duduk dengan si anak baru itu. Yaah not badlah, walaupun bukan perempuan setidaknya aku punya teman
ngobrol saat pelajaran berlangsung.
Tantra tergolong cowo cakep dan tak sedikit yang
meliriknya, namun dibalik ketampanannya ada sesuatu yang membuatnya cakep
sesaat. Sesaat, karena disaat dia mulai berbicara seakan runtuh semua
kegantengannya, suara yang dia miliki sangat cempreng. Jadi terdengar sangat
aneh jika dia berbicara. Tapi walaupun begitu dia sudah memiliki pacar dan
anaknya di kelas sebelah. Pacarnya mengetahui kami sebangku, namun itu tidak
mempengaruhi apapun. Karena tak ada yang perlu dia khawatirkan dariku, dia
lebih cantik dariku dan sepertinya aku bukan apa-apa buat dia.
DUO Lenje selalu menghampiri mejaku dan bersenda gurau
dengan laki-laki yang ada di barisan dekat jendela ini, belum lagi ditambah
Romi yang suka bercanda mengenai ballpoint
kesayangannya, dia dapatkan itu dari gereja.
Melihat situasi ini, lantas membuatku nyaman atau
terbiasa untuk mengobrol dan berteman dengan laki-laki. Sikapku yang tertutup
dan berdiam diri, berubah dengan segala aktifitas dan lingkungan sekitar yang membangun kepribadianku menjadi lebih terbuka
dan bebas.
***
Teman, Sahabat dan Pacar
“Marsya, Keyla
dan Ratna stand by di belakang
panggung ya, saat giliran kita kalian langsung ke stage. Buat yang lainnya fokus timing
masuk dan check partnernya
masing-masing. Gendang sama sound system
udah ready ya. Okey! 5 menit lagi giliran
kita tampil. TEATER TIRTA?!!!” teriaknya sungguh membuat semua orang yang mendengar terbakar semangat.
“Hap! Hap! Hap! SEMANGAT!!!” serentak seluruh anggota Teater bersorak. berlari dengan gembira disaat seseorang berdiri terpaku di sayap kanan..
- CONTINUE -



Komentar
Posting Komentar