STORY PART 4 (3 MONTHS OF LOVE)

 


Cinta Yang Pantas

Diiringi hujan, hiruk pikuk klakson sana-sini tidak menghalangi tetesan hujan yang mengukir gelombang di jendela angkutan umum berwarna kuning yang sering kunaiki. Tetesan itu berkumpul disela jendela kaca yang sebagian beterbangan. Tanpa kusadari, sembari kuperhatikan tetesan tersebut akupun tersenyum kecil dengan hati berbunga seakan pemandangan kota padat ini, indah terlihat dengan alunan musik nan romantis.

Aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang siswi yang jauh dari kata beken. Dandananku yang sederhana namun aku nyaman dengannya. Rok abu yang dibawah lutut, baju seragam yang kelonggaran, ikat pinggang menjuntai dan kaos kaki tebal yang bertuliskan ‘SMA TIrta’ semata kaki. Tapi, dengan penampilan seperti ini, apakah salah kalo aku berharap akan adanya cerita indah di bangku SMA ini?

Semasaku sekolah sampai masuk SMA ini bukan berarti tidak indah, cuman kujalani dengan serius. Bukan berarti serius dalam arti sebenarnya, cuman perihal ‘rasa’, ‘suka-sukaan’,’demen-demenan’ ato apalah namanya aku tidak terlalu memerdulikannya. Hmm, mungkin ‘Cinta Monyet’ yang aku maksud. Kalo diingat-ingat track recordku not bad juga. Well, gini-gini aku pernah ditembak cowo, bukan cowo lebih tepatnya anak laki-laki yang masih ingusan haha.. Bahkan kata ‘tembak’ aja, sempat aku lontarkan pertanyaan.

“Key, jadian yuk?”, aku terdiam ga tau harus jawab apa. “Kok malah diem aku tembak gini?” tanyanya heran, heran kali ya biasanya langsung dijawab iya ini malah matung dan ngasih pertanyaan.

“Hah? Tembak itu apaan Den?” sembari bingung dan memang aku serius ga tau maksud dia di masa itu. Malah, aku pernah dikejar-kejar sampe rumah dan hampir masuk selokan saking takutnya, ato malah dia mau nagih hutang yah haha.. Haduhh baru anak SD aja dah gitu, sekarang masih zaman kejar-kejaran ga ya.. hayooo yang senyum-senyum sendiri, berarti pernah ya. Ato mungkin sekarang ga zaman lagi, tapi zamannya nanya Pin ato stalker twitternya ya.

Memang unik ya cinta monyet, dan penyakitnya buat aku tu pernah ketakutan tingkat tinggi sampai keringet dingin.

“Key, ini surat buat kamu. Bacanya di rumah ya” temanku Sari tersenyum jahil sambil memasukkan sepucuk surat ke dalam tas ransel merahku. “Oh Okey” tersenyum dengan polosnya.

Sesampai di rumah, saat membuka pintu rumah langsung kupanggil saudaraku yang berbeda 3 tahun dibawahku.

“Diah!! Sini.. Kita main monopoli yuk”, merebahkan diri sejenak di sofa.

“Iya Kak Key!!” langsung meluncur ke tempatku berada. Permainan ini memang favorit kami, apalagi di bulan Ramadhan sambil nunggu bedug.

“Aku maininnya yang merah ya, kamu yang kuning jagoannya” perintahku.

“Okey!!” semangat 45 skali sodaraku ini. Saat kulihat tas, ku tersadar akan surat persahabatan yang tak sabar ingin kubaca. “Eh Diah, tadi temen sekelasku ngasih surat, baca bareng yuk. Kayanya surat-suratan kaya nulis diary gitu. Ga nyangka, dia nganggep aku sahabatnya.”

“Baikk!!” jawabnya masih dengan semangat 45. Kubuka pelan-pelan suratnya, karena sang surat terlipat rumit seperti origami yang diorigamikan. Lalu kubaca dengan sangat hati-hati, karena tulisannya tingkat Dewa karena sudah melebihi teknik penulisan dokter ahli specialis. Saat kubaca kata demi kata, dengan perasaan yang sangat luar biasa antusias, kumulai mengerenyitkan dahi. “Lho? Lho lho?” aku mulai bingung.

“Kenapa Kak Key? Tulisannya terlalu bagus ya, jadi bingung?” entah apakah Diah ini menyindir atau memang baginya ini tulisan paling indah yang pernah dia lihat di masa itu. Aku terhipnotis dengan kata Diah, jadi kucoba membacanya kembali dari awal.

‘Keyla, senyummu manis seakan membuyarkan nirwanaku. Aku terpesona dan tersanjung saat melihatmu dan.. ‘ bacaku dalam hati (harap perlu diketahui kalo Terpesona dan Tersanjung itu sinetron yang lagi ngeHits banget di zaman itu, ups ketauan deh tuwirnya).

“Apaan ini!!! Ini mah APA?? APA INI??!” teriakku. “Kenapa Kak, kenapa?? Ada yang minjem uang ya” apa sih ini saudara gue.

“Keyla..” panggil ibuku dari arah belakang rumah sembari menghampiri ke arahku. Sebelum terjadinya pertemuanku dengan Ibunda, kulangsung lari terbirit sambil menyeret Diah keluar rumah, hingga berjarak 2 meter dari rumah dan terdiam di sebelah selokan.

Diah masih dalam keadaan kebingungan. “Ga bener ini, ga bener…” tanganku berkeringat dingin dan mulai meremas-remas surat itu. “Kenapa? Kakak ga punya uang ya buat minjemin. Pakai uang monopoli aja Kak” Diah mencoba mencari solusi, yang sedari tadi menyeretnya pergi dari rumah namun dianggap tak ada olehku.

“Ah, ga tau, ini ga boleh ada yang tau!! Mesti dimusnahin ini!” tanpa sadar kusobek-sobek hingga menjadi seperratus bagian surat, lalu kubuang ke selokan. Dan melengos pergi ke rumah.

“Kak ini jadinya main monopoli apa main petak umpet? 25nya di selokan Kak?!” akupun berlalu tanpa mendengar teriakan Diah dan berharap ini ga pernah terjadi.

Keesokan harinya, Sari bertanya “Key, sudah dibaca suratnya?”. “Surat?” ritual penghilang ingatan ampuh juga ya, walaupun meninggalkan korban Diah yang menangis karena ga berhasil menemukanku yang sedang bersemedi di kamar mandi.

“Iya, surat yang kemarin aku kasih” sial, pupus sudah hasil ritualku itu, semua mulai terekam kembali kejadian kemarin. “Ih, apaan surat kaya gituan. Kamu jail ya?”

“Yee, itu bukan dari aku. Tapi dari Deni” sambil menunjuk si tersangka yang sedang asyik berdiri diatas meja dengan teman-teman yang lain untuk sekedar melihat sesuatu di luar sana. “HAH?!” lebih terkaget lagi dengan statement dari Sari barusan dibanding isi surat kemarin, malah ini mulut kayanya bisa jatuh kalo berada di dunia kartun. Secara Deni itu murid baru pindahan dan anak paling beken, yang SD lainpun tau dirinya. Entah ini berkah ato petaka, dengan adanya dia ga sedikit orang yang berkata terhadapku “Apa bagusnya kamu?”. Inilah yang membuatku mendingin terhadap hal seperti ini dan berpikir ga ada gunanya yang ada malah bikin kita pusing.

Semasa menduduki bangku SMP, hal ini terjadi lagi lewat perantara. Saat ujian berlangsung, mungkin karena kurangnya ruang kelas, sebangku itu 2 orang namun yang kiri kelas 1 dan yang kanan kelas 2. Selesai ujian pertama, saat kubaca buku dibangkuku, senior yang duduk didepanku berdiri di depan pintu yang sedari tadi melihat ke arahku, dia terlihat serius mengobrol dengan seorang laki-laki, mungkin pacarnya. Dia lalu datang menghampiri bangkuku.

“Key, kamu kenal Tyo ga?” tanyanya. “Tyo? Engga tau, emang kenapa Kak?” menyimpan buku yang kupegang sejenak. “Yang tadi pake topi hitam” jelasnya.

“Ooh.. pacar kakak yang tadi. Engga Kak”, kucoba alihkan padanganku ke buku karena 10 menit lagi akan masuk ujian ke 2. “Eh bukan pacar aku itu. Malah tadi di depan pintu dia bilang suka sama kamu. Dia minta tolong aku buat sampein ini ke kamu” ungkapnya.

“Apa? Keyla ga tau dia, malah aku sangka itu pacar Kakak” tanyaku heran.

“Dia merhatiin kamu waktu camping, dia di tenda Paskibra dan kamu ada di seberangnya. Dia mulai suka kamu disana” jelasnya. Aku langsung menyanggahnya “Ga mungkin Kak, salah orang kali”. Ya gila aja, camping waktu itu ga ada air dan di tenda aku ga ada yang mandi. Bajunya aja sweater yang kemarin, mana bisa narik perhatian orang dengan keadaan kaya gitu, kayanya sempet kepentok deh dia waktu camping. Apalagi sepintas tadi, dia termasuk orang yang berselera bagus deh, semakin yakin aja kalo dia salah orang. “Yaudah, nanti aku tunjukin orangnya ya dan sekalian ngobrol langsung” akupun tak menjawab dan langsung tenggelam dalam bacaanku.

Sepulang ujian, senior aku yang tadi, menepati janjinya yang sama skali aku ga ingat. “Tuh Key, yang rambutnya kaya Tin-tin depan, sengaja aku suruh dia ga pake topi biar kamu jelas lihatnya. Padahal, dia paling ga suka kalo ga pake topi lho. Tyo!!!” seniorku ini mulai melambaikan tangan yang mengkodekan untuk datang menghampirinya. Anehnya, itu rambut tin-tin kok bisa tegap berdiri gitu ya, padahal sebelumnya pake topi terus dan terlihat seperti injuk, masa iya pake hair spray kaya ibu-ibu.

Tyo mulai mendekat dan menyapaku dengan senyum malunya dan berkata “He, halo Key”. Aku hanya tersenyum, apa yang mau dilakukan selanjutnya. Ah ini hanya membuatku seperti orang bego yang bermimpi ketinggian. Beneran ni? Tapi aku malas dengan perkataan orang yang bilang ‘Kamu punya apa?’. Sebelum aku terlihat seperti keledai, maka kuputuskan untuk tidak terlalu menghiraukannya dan pura-pura tidak tahu akan perasaannya.

“Kak, aku pulang duluan ya. Buat belajar ujian besok sama PR” belum sempat mendengar jawabannya, aku langsung mengambil seribu langkah dari tempat mereka. Alhasil, ini membuat suasana kikuk kalo kita berpapasan dan membuat semua terasa aneh saat kutahu dia seniorku di paskibra. Gosip mulai tersebar tentangku dan Tyo di ranah Paskibra SMP kami. Suatu hari saat persiapan lomba Paskibra di ruang ganti seragam, tanpa sengaja ku mendengar gosipku dengan Tyo.

“Rit, kamu tau ga? Masa Kak Tyo suka sama Keyla. Ya ampun ga cocok banget” mulai rempong nih mulut si anak atu. “Ih iya. Ga pantes tau ga. Emang apa bagusnya dia coba, cantikan juga elu”, tambah comment temannya layak DUO Rempong. “Hahaa banyak yang kaget tau ga, pas tau cewe yang Kak Tyo suka itu Keyla” mereka mulai tertawa terbahak yang tanpa sadar orang yang mereka bicarakan ada di ruang kamar pengganti sebelah.

Tanpa banyak pikir, aku langsung keluar kamar pengganti dan masuk ke team untuk menunggu giliran tampil. Apapun yang terjadi aku harus menyelesaikan lomba ini, dan sungguh luar biasa, dibawah gerimis dan teman sebaris sempat terjatuh. Tim paskibra kami memenangkan juara favorit dan harapan I, kamipun menangis haru diantara sorak sorai para penonton.

Kami berpelukan satu sama lain, sampai tiba saat aku dan Tyo berpelukan, dia merangkulku dengan erat dan berbisik “Selamat Key”, aku hanya bisa menangis telusup kepalaku ke dadanya, luapan haru sekaligus sakit hatiku terhadap hal yang terjadi tadi.

Kunaiki tangga, masuk ke sekre paskibra dengan perasaan bingung. Pandangan orang-orang yang ada di sekre tertuju padaku. Semua terdiam dan tiba Tyo dari arah belakangku dan bertanya “Kenapa?” dia juga merasakan kebingunganku.

Keheningan terpecah saat salah satu pelatih kami berbicara “Kalian pacaran?”. Kami terdiam, memang pada dasarnya aku tidak banyak bicara di ekskul ini. “Kalian tau, di Paskibra itu ga boleh ada yang pacaran satu sama lain, karena kita semua yang ada disini adalah saudara” jelas Kak pelatih yang berkulit sawo matang namun manis ditambah badannya yang tegap.

Kami berdua saling bertatap pandang, karena aku ga tau harus menjawab apa selain aku malu untuk berbicara. Namun aku heran kenapa Tyo ga menjawab kalo kita memang ga ada hubungan apa-apa. “kecuali.. kalo ada yang keluar salah satu, baru boleh pacaran kan bukan sodara lagi” tambahnya.

Semua orang melihat ke arah kami, termasuk DUO rempong yang kemarin bergosip tentangku. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri si pemilik suara tadi dan berkata “Kak, aku mau keluar. Terima kasih ya sudah beri aku kesempatan disini” dia terkaget saat kuultimatumkan pemberhentianku ini.

Pelatih lain yang berkacamata langsung menyanggahku dan berkata “Engga kok Key, gpp kalian pacaran asal jangan mengganggu konsen kalian di paskibra ini, ini ga mutlak kok”, raut mukanya langsung terlihat cemas.

“Gapapa Kang, memang aku akan keluar dari Paskibra ini. Makasih ya Kang” aku langsung terjun menelusuri tangga dan menuju kelasku, namun belum sampai ke ruang kelas Tyo langsung menarik tanganku dan yang dia ucapkan bukan tentang paskibra “Key memang kita beneran pacaran?” terlihat mukanya penuh harap.

“Engga Kak, aku cuman ingin keluar dari sana aja” jelasku dengan perasaan malas.

“Eh kenapa Key? Kalo gitu aku yang keluar aja kalo kamu ga nyaman ada aku disana” dia masih memegang lengan kananku, tangannya terlihat besar dan bersih sangat kontras dengan warna kulitku yang kecoklatan rensi tinggi. Kumulai melepaskan tangannya, semakin terlihat seperti itik buruk rupa jika bersanding dengannya. “Gapapa Kak. Kakak kan yang duluan disana. Aku gapapa kok, aku memang pengen keluar” sebelum aku dicegah lagi olehnya, aku langsung masuk ke ruang kelas dan memburu tasku untuk pulang bersama siapapun agar bisa terjauh darinya.

Keesokannya keadaan kami ga ada yang berubah tetap terlihat kikuk dan berakhir dengan kata “Makasih” darinya saat dia melepas masa SMPnya dan aku menjadi paling senior di sekolahku. Kalo ingat sekarang, aku ingin sekali bertemu dengannya sekali lagi. Tapi walaupun aku bertemu dengannya, aku pasti tak akan sadar, aku lupa dengan bentuk mukanya, yang kuingat hanya rambut tin-tinnya yang mungkin sekarang sudah berubah menjadi Mohawk hehe..

Tapi dari hal itu semua, yang paling kaget adalah saat teman yang duduk di belakangku yang kukira berpacaran dengan teman sebangkuku itu berdiri diatas panggung yang bisa dibilang ‘Katakan Cinta ala anak SMP’ di waktu acara perpisahan kita. Yang kukira akan menyeret teman sebangkuku tapi yang disebut “namanya Keyla” serentak akupun diserbu para panitia dan aku berontak seperti halnya demo bentrokan antara polisi dan mahasiswa.

 Sampai akhirnya aku terdiam, disaat sang Ketua Osis berkata “Hargain dia, dia sudah berkorban malu di depan semua orang” kulihat dia yang terlihat gugup, mukanya berkeringat dan memegang mikrofon sebelah kanan, bunga mawar di tangan sebelah kiri. Akhirnya kuikuti keinginan sang Ketua Osis, berjalan ke depan tanpa berkata, memerhatikan sekitar dan bergerak mundur menjauhi si katakan cinta ini, dia menunggu jawabannya, aku kebingungan, lama kemudian sang Ketua OSIS berkata lagi “ambil bunganya”. Kayanya dia seorang hipnotis kelas kakap, karena kulangsung ambil bunganya dan berontak pergi.

 Namun keesokan harinya, kulangsung memintanya untuk bersikap seperti biasa. Responnya entahlah seperti apa aku bener-bener lupa, yang kuingat hanya keluhan dan cibiran para guru saja dan teman-teman yang lain. Para guru menyayangkan sikapku yang seperti itu, dia memang dekat dengan para guru tapi harap catat, aku ga pernah memintanya untuk melakukan hal apapun, tau seperti ini langsung aja aku tolak dia kemarin. Inilah yang membuatku semakin yakin, tak ingin berbeda dan menutup diri.

Penutupan diri ini berlangsung sampai kumasuk SMA sekarang dan bertemu dengan DUO Lenje yang terdiri dari 2 orang laki-laki dengan tinggi badan 175cm berhidung mancung, gerakannya luwes namun bersikap abnormal haha.. Dan 1 lagi, semenjak kutemukan kenyamanan berekskul di Teater. Dua hal inilah yang membuatku mulai terbuka dan semakin bisa untuk mengeksplorasi diri.

Aku bahagia dengan keadaan sekarang.

Tapi tak kusadari ternyata hal ini membawaku ke berbagai rerumputan yang tertanam ranjau sana-sini.

***

Komentar

Postingan Populer